Cetya Pan Ko Ong,Klenteng Cantik di Daerah Pesisir

Ni Hao….
Makassar 28 February 2010,adalah 15 hari setelah penanggalan tahun baru china,dan seperti biasa dan telah menjadi agenda event oleh pemerintah Makassar akan ada Cap Go Meh Carnaval yang diramaikan oleh berbagai vihara dari Sulawesi Selatan. Dan salah satu klenteng yang akan bergabung dengan carnaval besok adalah Klenteng Tri Dharma Cetya Pan Ko Ong.Satu – satunya klenteng di Kabupaten Takalar,luar Makassar.
Sebuah perjalanan wisata yang menarik untuk mengunjungi Cetya Pan Ko Ong ini,karena anda akan menikmati perjalanan dengan pemandangan yang indah dan bertemu dengan penduduk desa yang ramah –ramah.
Tepatnya di Galesong Selatan,di area pesisir,Jl.Pelabuhan,Cetya yang berukuran luas 6 x 15 M ini berdiri dengan indahnya.
Masuk melalui gerbang besi yang dihiasi symbol yin dan yan,anda akan disambut dua pilar besar yang dililit oleh ukiran naga ,dan juga beberapa lilin besar yang cantik dan terus menyala,dan beberapa lampion cantik yang tergantung di atap masuk.
Lanjut melangkah ke ruang dalam cetya jangan lupa melepas sepatu atau sandal anda.Masuk ke ruang cetya atau klenteng ini perasaan akan adem dengan alunan music mandarin,seolah membuat beberapa arca dewa di dalamnya tersenyum dan tetap duduk tenang di singgasananya.
Terus melangkah ke tengah bagian dalam anda akan menemui tiga arca yang
berderet,dan anda akan melihat arca di tengah yang didampingi oleh dua arca lainnya adalah arca dewa Pan Ko Ong.
Bagaimana arca ini sampai ke Galesong??
Baba Guru(Guru Hartono)adalah pemilik tunggal arca Dewa Pan Ko Ong ini.Konon ceritanya Arca Dewa Pan Ko Ong ini berasal dari Hokkian Canciu Tiongkok(Cina) yang kemudian dianut secara pribadi oleh almarhum Ho Kim Cui( bapak dari Guru Hartono).
Arca Dewa Pan Ko Ong masuk di Indonesia pada tanggal 17 April 1912,tepatnya di Makassar(Bonto Ala).Setelah Ho Kim Cui menikah dengan Thung Soat Tiu,gadis asal Galesong pada 28 Maret 1923,Ho Kim Cui pindah ke Galesong.Kemudian arca Pan Ko Ong ini dibawa ke Makassar tepatnya di Jalan Sungai Kelara No.3A saat diberlakukan PP No.10 Tahun 1959. Namun pada tanggal 16 Desember 1975 pindah lagi ke Sungguminasa (Gowa) dan terbentuklah Tri Dharma Cetya Pan Ko Ong Galesong,sesuai pendaftaran Departemen Agama Pusat,dengan nomor 53/W I/1975 dan Departemen Agama Sulawesi Selatan No. KW 21-10/BA 04201/2005.Tahun 1978 kembali lagi ke Galesong Selatan sampai sekarang.
98 Tahun Cetya cantik ini berdiri yang kemudian dirawat dan dilanjutkan
oleh Guru Hartono (Ho Hoo Ping) banyak dikunjungi oleh umat Buddha yang datang berdoa pada setiap bulan 1 dan 15 penanggalan Imlek. Pan Ko Ong sendiri diperingati setiap tahunnya tanggal 16 bulan ke 10 penanggalan Imlek.
Tahun 2009 kemarin,Guru Hartono harus menyelesaikan tugasnya dan berhenti untuk merawat cetya ini ,namun dapat kita lihat di salah satu sudut kelenteng ini ada sebuah piagam penghargaan yang diberikan kepada Guru Hartono dari Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Sekretariat Jenderal Departemen Agama Republik Indonesia dalam sebuah kegiatan Dialog Tokoh Agama Masyarkat Adat dan Nelayan Pesisir yang waktu itu diselenggarakan oleh Pusat Kerukunan Umat Beragama pada tanggal 25 – 29 Agustus 2008 di Makassar.
Menikmati keindahan cetya ini dari dalam anda akan dibantu oleh Baba Nurdin(Giong Hing) orang yang juga bersama Guru Hartono merawat Cetya ini,dan juga banyak dapat informasi dari Baba Hery(Hery Hartono)sebagai ahli waris dari Guru Hartono untuk mengelolah Cetya ini.
Di bagian kiri dalam cetya deretan arca dewa terpajang dengan indah,dua diantaranya Na Mo Koang Shi Im Phu Sat (Phu Sat Yang Maha Penyayang dan Pengasih) dan Kwan Seng Tie Cuen (Dewa Kwang Kong,Yang Jujur dan Setia). Kemudian di bagian tengah adalah meja doa/sembahyang lengkap dengan hio dan lilinnya,juga ada sejumlah stick dalam guci untuk melakukan Qian Se setelah prosesi membakar hio.
Ada yang unik dalam melakukan Qian Se ini dimana sebelumnya anda harus mengambil dua bua benda yang bentuknya setengah lingkaran yang ada di meja doa,kemudian melemparnya.Sin Poe ini kemudian dilempar kalau jatuhnya membentuk hurup D yang saling membelakang,artinya anda tidak bisa
melakukan Qian Se,tapi kalau jatuhnya satu terbuka dan satu tutup,artinya jadi,dan anda bisa mengerakkan beberapa stick bernomer yang ada dalam guci,ketika keluar satu kemudian ambil dan anda bisa membawa dan mencocokkan nomernya dengan deretan kertas Qian Se yang telah tersusun rapi di bagian kanan depan cetya ini,ambil satu dan bacalah peruntungan anda.
Keberadaan Klenteng Tri Dharma Cetya Pan Ko Ong di desa Galesong ini,benar –benar membuktikan kalau masyarakat kita bisa bertoleransi dengan baik dengan baik dalam kehidupan keragaman suku budaya dan agama.Dan untuk merawat asset wisata ini ternyata donaturnya bukan dari Yayasan karena toh cetya ini bukan milik sebuah yayasan,donaturnya semua dari umat yang sering datang beribadah ke tempat ini. Berminat menjadi salah satu donatur juga??Why not..untuk tidak menghubungi 081343879833 bagian pengelolaan dan perawatan klenteng cetya Pan Ko Ong.
Let’s keep our culture for our future…
Sie sie….



Leave a Reply