PESTA LAMMANG DI LANTANG TAKALAR
Suatu kebiasaan yang sudah mentradisi di desa Lantang Takalar, sekitar 55 km arah Selatan dari kota Makassar yakni membuat Lammang (makanan yang dibakar dalam bambu) setiap usai panen padi.
Malam Jumat adalah awal prosesi itu dilakukan masyarakat Lantang. Malam itu hampir tak satupun halaman rumah di kampung itu tanpa nyala api pembakaran Lammang atau kaddo’ bulo. Secara serentak beramai-ramai dengan perasaan suka cita, syukur yang mendalam kepada sang khalik atas rakhmat-Nya.
Mereka lakukan pesta itu sebagai luapan kegembiraan dan dibiaskan pada sanak keluarga dan kerabat dan handai taulan mereka. Semua diundang untuk menikmati makanan Lammang secara bersama-sama.
Bagi mereka yang belum pernah mengikuti acara A’Lammang di desa Lantang Kecamatan Palombangkeng Selatan Kabupaten Takalar memang akan terasa aneh. Anda bisa bayangkan Malam Jumat di sebuah desa… Suasana bagaimana yang sesungguhnya terjadi? Bagaimanapun pula dengan Lammang yang jumlahnya begitu banyak? Lalu siapa yang akan makan…? Karena saat itu semua warga desa membuat Lammang!!!
Sesungguhnya sudah pasti sama seperti desa lainnya, sunyi dan sepi ketika malam tiba…tapi ternyata sungguh sangat mengagetkan karena saat itu secara serentak tiba-tiba bermunculan nyala api di depan rumah penduduk membakar Lammang sebagai pesta mereka. Terciptalah suatu pemandangan yang mirip suasana menjelang lebaran di desa-desa.
Kegiatan membakar Lammang membuat suasana tiba-tiba jadi ramah, saling tegur sapa bersama, terucap Syukur pada Allah atas Rakhmat-Nya menikmati hasil panen mereka. Mesti malam perlahan semakin kelam, namum kepulan asap kian menebar aroma Lammang yang semakin menggoda selera.
ASAL MUASAL PESTA LAMMANG DI LANTANG
Menurut beberapa tokoh masyarakat setempat A’Lammang yang di lakukan sekarang ini tidak lagi seramai tempo dulu, pesta Lammang tidak hanya berlangsung malam hari tetapi semalam suntuk, dari malam sampai siang hari. Yang lebih menarik, adalah bahwa masyarakat tidak menerima tamu di rumah, tetapi semua penduduk mendatangi sungai sambil membawa Lammangnya. Mereka bersama-sama menangkap ikan di sungai tersebut, dari hasil tangkapannya di masak atau di bakar untuk dimakan bersama Lammang. Dari perkembangan selanjutnya karena tidak hanya penduduk desa itu yang menikmati panganan mereka, tetapi sudah ada penduduk desa lain yang secara khusus melibatkan diri dalam pesta Lammang itu, sehingga secara bertahap acara tersebut berubah seirama dengan tradisi adat ini. Kini tidak lagi turun ke sungai Lantang menangkap ikan tetapi tinggal sama-sama menunggu tetangga atau tamu berdatangan kerumah-rumah mereka, mirip perayaan lebaran. Acara pesta Lammang hanya berlangsung pada malam hari besoknya suasana desa kembali seperti biasa .
.
(Bahtiar, Spt)




Leave a Reply