Membaca tulisan Sidharta Tedja di sebuah majalah membuatku selalu bertanya,apa emang Kartini istimewa?? Seistimewa apakah dia?
Apa yang membuat RA Kartini istimewa? Beliau adalah perempuan yang tercabik konflik antara menjadi anak perempuan yang patuh pada orang tua dan tradisi dan menjadi perempuan yang memiliki wawasan yang luas..
Beliau ‘memberontak’ dengan cara yang halus.Perjuangannya bisa dikatakan dimulai dengan tidak mau berhenti belajar. Beliau melahap apa saja yang bisa dibaca;Koran,majalah dan tentu saja ,buku-buku. Beliau berkorespondensi dengan teman –teman yang berbeda benua, di mana ia mengungkapkan harapan dan tentu saja keluhan mengenai situasi social di sekelilingnya.Tetapi beliau bukanlah seseorang yang hanya diam saja sambil menangisi nasib. Dengan dukungan suami,ia mulai mendirikan sekolah-sekolah untuk perempuan,sampai Yang Maha Kuasa berkehendak berbeda dan beliau harus meninggal dalam usia yang mungkin masih sepantaran dengan kita (beliau meninggal tidak lama setelah melahirkan anak pertamanya pada usia 25 tahun).
Sekali lagi apa yang membuat RA Kartini istimewa?
Beliau istimewa karena beliau berpikir “melampaui jamannya”,seperti yang dikatakan Soe Hok Gie. Di lingkungan di mana media sangat terbatas,beliau tidak mau mengkungkung pemikirannya dan mengikuti begitu saja budaya patriaki di sekelilingnya tetapi dengan cara-cara yang halus tetap terwujud,di mana beliau mempertanyakan secara kritis peran gender yang disodorkan kepadanya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: masihkah kita perlu mempertanyakan mengapa masalah emansipasi ini penting? Masihkah kita perlu meneruskan pemberontakan Kartini dalam mempertanyakan peran gender yang disodorkan? Bukankah kita pernah umemiliki president perempuan?(Amrik saja yang konon merupakan Negara maju belum pernah memiliki presiden perempuan!Bahkan,semoga aku tidak salah,wakil presiden perempuanpun belum pernah dimiliki Amerika Serikat).Kemudian,apakah permasalahan ini masalah eksclusive perempuan?Apa untungnya untuk laki-laki? Bukankah peran gender masing-masing sudah jelas dan di jaman modern ini masing-masing tidak terbelenggu dengan peran gender lagi? Bukankah di masa sekarang ini semua orang bisa menjadi apapun? Betul,tapi masa sekarang juga menyediakan tantangannya sendiri.
Mary Pipher menulis buku yang fenomenal,Reviving Ophelia,buku yang membahas masalah yang dihadapi remaja perempuan di Amrik.Seperti apa masalah yang dihadapi kliennya? Mulai dari anorexia,bulimia,narkoba,seks,percobaan bunuh diri dan lain-lain.Mungkin salah yang pernah mengalami masalah itu adalah aku juga. Mary Pipher sendiri memiliki kompetensi yang unik sebagai antropolog dan psikolog klinis,sehingga ia mampu menganalisa dari sisi masalah kepribadian tetapi juga dari segi budaya.Mary Pipher seringkali heran karena masa kecil kliennya begitu sempurna;orang tua yang perhatian kepada anak,dan anak perempuan sendiri begitu percaya diri untuk mencoba banyak hal secara mandiri,tetapi mengapa remaja perempuan ini bisa jatuh ke beragam masalah?Jawabannya adalah tekanan budaya terhadap remaja perempuan mengenai apa yang harus dilakukan oleh perempuan.Budaya pop dan konsumerisme memberikan pesan kepada perempuan bahwa mereka harus menjadi perempuan yang langsing,cantik,putih barulah mereka akan dilirik laki-laki.Mereka belajar bahwa menjadi seseorang yang percaya diri,berani mengungkapkan pendapat adalah hal yang tidak feminine.Konsekuensi dan tidak feminine adalah menjadi tidak menarik dan tidak diperhatikan laki-laki. Tidak percaya? Mudah membuktikannya,coba perhatikan film,sinetron dan iklan .Mana yang lebih dsering?Perempuan yang jadi pahlawan atau laki-laki si penyelamat dunia dengan perempuan cantik yang perlu dilindungi ala James Bond?
Perhatikan juga komedi di depan kita,apa yang terjadi dengan perempuan yang tidak cantik dan seksi dalam komedi? Menjadi obyek tertawaan dan apa yang terjadi dengan perempuan cantik dan seksi? Menjadi penghias layar tv.
Penulis Simone de Beauvior berkomentar bahwa menjadi remaja perempuan berarti saat ketika perempuan menyadari bahwa laki-laki memiliki kekuatan ini adalah dengan menjadi obyek submisif yang disayangi dan diperhatikan(apa bedanya dengan boneka imut,atau tibi-tibiku?)Perempuan yang tadinya berusaha menjawab “Siapa aku dan apa yang ingin kucapai”.Sekarang berhadapan dengan pertanyaan”Bagaimana aku membuat mereka senang?”Hal yang menarik adalah Mary Pipher juga tidak setuju dengan budaya yang konservatif. Ia mengatakan bahwa budaya konservatif juga sama mengungkungnya dengan budaya pop dan konsumerisme; mirip dengan apa yang dialami oleh RA Kartini ketika terpaksa mengikuti tradisi yang ada.
Ok,bagaimana dengan laki-laki?Sebenarnya laki-laki tidak selalu berada dalam posisi yang menguntungkan dengan budaya patriaki dan sebaliknya perempuan tidak selalu diuntungkan.Misalnya: dalam budaya patriaki dalam sebuahsuatu kelompok etnik tertentu,anak laki-laki lebih banyak mendapatkan fasilitas,terlalu mudah bahkan. Sedangkan anak perempuan harus bekerja keras dahulu untuk mendapatkan sesuatu. Dalam banyak kasus,anak laki-laki dalam budaya tersebut tidak lebih menjadi anak manja,penuntut fasilitas dan meremehkan perempuan.Tetapi perempuan-perempuan saudaranya terbiasa kerja keras dan cerdik dalam berpikir karena terbiasa harus bekerja keras dalam mencapai sesuatu sehingga kelak mereka menjadi pekerja yang tangguh.Bila mengikuti peran tradisional sebagai dan menjadi ibu rumah tangga,mereka menjadi penasehat dan pendorong suami sehingga suami mereka berhasil dalam karirnya.
Bahkan sebenarnya laki-lakipun dirugikan dengan budaya patriarki yang mengagungkan posisis mereka. Joliff dan Horne menjelaskan mengapa dalam budaya yang disebutkan menguntungkan laki-laki seperti yang terjadi di Amrik,lebih banyak laki-laki dipenjara,gagal di sekolah,menjadi korban dan pelaku kekerasan. Mereka berdua menjelaskan fenomena silent son. Laki-laki yang sulit mengolah,menyelami “dan mengekspresikan perasaannya secara adekuat serta lebih suka memendam perasaannya sendiri.Mereka mungkin saja pemarah dan suka kekerasan. Di sisi lain mereka juga ambisius,termotivasi untuk berprestasi,suka bekerja keras (bahkan cenderung workaholic),mandiri dan mampu bekerja di bawah tekanan.Konsekuensi lain dari kesulitan dalam menyelami perasaan adalah ketidakmampuan untuk menjalin suatu hubungan yang intim dengan sesame,khususnya dengan anak dan pasangan..Bila mereka menjalin suatu keluarga,maka mereka berusaha mengontrol keluarganya,sulit untuk terbuka dan intim dengan pasangannya ,kaku,dan menggunakan karir sebagai sumber kepercayaan dirinya.
Bila kita perhatikan,deskripsi silent sons di sini bersinggungan dengan peran umumnya laki-laki: menjadi tulang punggung keluarga,diharapkan bisa bekerja keras,tangguh,tidak ekspresif dan mandiri (mirip dengan peran laki-laki dalam iklan-iklan rokok). Mengapa hal ini bisa terjadi? Silent sons memang terbentuk untuk menginternalisasi peran sebagai laki-laki. Sejak kecil mereka diajarkan untuk memendam perasaan (“laki-laki tidak boleh menangis,tidak boleh cengeng”). Bila mereka tidak berlaku tangguh,(misalnya tidak bisa atau tidak suka berkelahi) maka ia dianggap aneh oleh teman-temannya.
Masalahnya dengan memendam perasaan adalah,bila kita memendam perasaan (katakanlah marah atau sedih) maka kita juga memendam perasaan lainnya sehingga kita kita sulit untuk hangat,terbuka,dan intim.Laki-laki yang matang pada akhirnya bisa menghadapi perasaan dan mengolahnya,tidak demikian demikian dengan silent sons,mereka terjebak untuk menjadi ‘laki-laki sejati’ dan secara kaku berpegang pada peran ini.
Ada satu segi pembentukan lain dari silent sons yaitu ketidakhadiran figure ayah.Entah karena perceraian,konflik berkepanjangan atau karir ayah yang terlalu sibuk sehingga jarang hadir dalam kehidupan anaknya atau karena ayah ini matang sehingga lebih sibuk dengan hobi dan kegiatannya sendiri.Untuk seorang laki-laki bisa tumbuh dengan dewasa,ia membutuhkan kasih sayang,rasa aman dan ibu dan ayahnya. Bagi seorang anak laki-laki,ayah bukan hanya sumber identifikasi mengenai bagaimana ‘menjadi laki-laki’ tapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah,kasih sayang ayah menghasilkan rasa aman sehingga anak laki-laki berani mencoba dan mengembangkan kepercayaan dirinya. Selain itu,bagi anak laki-laki ayah mereka adalah mentor/pembimbing ketika mereka harus menghadapi berbagai tantangan dalam hidup. Mengapa ada ayah yang begitu tidak peduli dengan anaknya?
Jawabannya kembali ke masalah peran gender. Seorang laki-laki lebih diharapkan untuk focus kepada tugas –tugasnya,sebagai seorang ayah ia cukup menghasilkan penghasilan saja,sisanya merupakan tugas ibu untuk membesarkan anaknya.
Maka hal yang bisa kita simpulkan adalah: peran gender yang diwujudkan dengan maskulinitas dan feminitas yang kaku memiliki bahaya dan kerugiannya masing-masing.Tidak hanya di jaman Kartini yang kurang lebih satu abad yang lalu,tapi juga masa sekarang. Jadi mari kita kembali menjawab suatu pertanyaan : apakah perjuangan Kartini masih relevan? Ya,bila perjuangan yang dimaksud untuk berpikir kritis. Untuk mempertanyakan hal-hal yang kita ‘telan’ begitu saja.Untuk menemukan alternative-alternatif dari belenggu. Sesungguhnya ketika memperingati hari Kartini,sebenarnya bukan perempuan saja yang dibebaskan ,tetapi juga laki-laki.
“manhood needs to redefined in a way that allow woman equality and man pride”
-Mary Phipher-