Wah.. Di Palembang Beli Listrik Pakai Voucher Isi Ulang
Dalam waktu dekat ini, pembelian daya listrik tidak hanya dapat dilakukan secara pasca bayar, tetapi juga secara prabayar.
Layaknya pembelian voucher handphone, pelanggan cukup membeli voucher listrik (voucher biasa disebut Token) kemudian memasukan beberapa digit nomor kedalam MCB yang ada di depan rumah.
Namun, MCB-nya tentu tidak lagi analog tapi sudah menggunakan MCB digital seperti yang sudah diterapkan di kawasan Rusunawa Jl Kasnariansyah Palembang.
Hal ini diungkapkan General Manager PT PLN (Persero) Wilayah S2JB Ir Nandi Ranadireksa, Selasa (6/4/2010) usai menghadiri Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di Hotel Aryaduta yang dihadiri Kepala Bappenas Prof Dr Armida S Alisyahbana MA, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi dan Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin SH.
Penerapan pola prabayar ini akan dilakukan di Sumsel dengan kota Palembang sebagai percontohan dengan area ujicoba di lima wilayah Rukun Tetangga (RT) dan Lima Rukun Warga (RW) dan di beberapa provinsi lainnya, seperti Jambi dan Bengkulu.
“Dalam dekat ini, pola prabayar sudah bisa dilakukan secara bertahap. Saat ini PLN Cabang Palembang sedang menyiapkan perakatnya,” katanya.
Harga Token yang ditawarkan nantinya cukup beragam mulai dari Rp 10.000 sampai bernilai jutaan rupiah. Nilai Token tersebut nantinya akan di konversi ke dalam kwh secara otomatis ketika pelanggan memasukan digit-digit token ke dalam MCB.
PLN Wilayah Sumsel, Jambi dan Bengkulu (S2JB) mulai serius memasarkan listrik prabayar sekitar Juni-Juli 2010 mendatang dan menyiapkan voucher isi ulang Rp 100 ribu dengan tarif Rp 800/kWh. penggunaan voucher prabayar itu masih dalam tahap sosialisasi dan baru fokus menyasar Kota Palembang dan ibu kota provinsi Jambi dan Bengkulu.
“Terlebih dahulu akan kita mulai lakukan sosialisasi penggunaan listrik prabayar menggunakan voucher, pecahannya Rp 100 ribu dengan harga Rp 800/kWh,” katanya.
Sementara itu penggunaan listrik prabayar itu sendiri akan memberikan kemudahan penggunaan dan penghematan listrik kepada konsumen. Pemakaian listrik seperti ini disebut dengan LISTRIK DIGITAL, semua proses dilakukan dengan cara digital tidak ada lagi pencatat listrik yang datang ke rumah pelanggan hanya untuk mencatat meteran listrik, harga per KWH pun lebih murah dibanding listrik manual, aliran listrik pun tidak akan diputus oleh pihak PLN karena setelah Token habis otomatis listrik akan padam.
Banyak hal positif dari penggunaan listrik digital ini, diantaranya pelanggan akan lebih berhemat dalam penggunaan listrik karena dapat memantau sendiri sisa Token yang ada.
Saat Token tinggal sedikit dan kantong sedang kering pelanggan dapat menghemat penggunaan listriknya. Sedangkan dari segi PLN ada dua tujuan yang utama, yaitu untuk menghilangkan angka tunggakan dan menekan beban listrik.
“Misalkan pelanggan beli voucher Rp 100 ribu, kalau satu bulan belum habis, artinya ada ada penghematan. Sebaliknya jika nilai Rp 100 ribu habis lebib cepat, maka terjadi pemborosan. Pelanggan sendiri yang menghemat,” kata Nandi(www.tribunnews.com). Makassar kapan ya..



Leave a Reply